Rabu, 03 Desember 2014

Dunia Kosong III

Angin malam menusukku
Cahaya temaram rembulan hendak hilang
Tertutup kabut duka yang mendalam
Lagi.
Mereka mendorongku
Menyeretku sampai terjerembab
Aku hampir mati...
Teriak seorang diri!

Tuhan
Aku hanya punya-Mu
Ampunilah aku
Lindungi aku yang mencintai-Mu

Senin, 23 Juni 2014

La Tahzan


“Assalamualaikum”

Suara besar ayah menyadarkan lamunannya.  “Wa’alaikumsalam” jawabnya datar.

“Bunda pulang pukul 5 lagi, Yah?” lanjutnya.
“Sepertinya begitu, kamu sudah makan?” balas ayah sambil melepaskan dasinya.
“Sudah Yah tadi buat telur dadar”
“Okelah kalo begitu” ayah meninggalkannya sendirian lagi  di ruang tv.

Sabtu, 21 Juni 2014

Dunia Kosong II

Ini seperti api
Menyulut - membakar habis
Perih membekas menyinggung luka
Menepis "the real usaha"
Dunia selalu bohong
Dinikmati insan instan
Ada dan nyata
Dunia memang kosong
Selalu yakin keadilan hanya milik-Nya

Dunia Kosong

Nafasnya tertahan
Matanya berair
Boom!
Ia meledak
Ia terisak
Semuanya tertawa
Mereka mengejeknya
Dunia kosong
Tuhan, aku hancur...

Rabu, 07 Mei 2014

DAMN! IT'S TRUE


"True friends are like diamonds, precious and rare. False friends are like leaves, found everywhere." - Anonymous


[CERBUNG] Sebatas Kata, Senyata Kita (Chapter 4)

[Geovani's POV]
From: Venya
“Hai Ge... Gimana kabar lo?”
Aha, akhirnya Venya mempunyai niat berbaikan padaku. Siang itu ia mengirimkan pesan berisi basa-basi jurus sumimasen.
“Hai Ve... Ya as always, gue selalu ganteng dan gue baik-baik aja. Seneng banget akhirnya lo ngontak gue lagi” Itulah yang ku balas untuk Venya.
Beberapa detik kemudian handphone ini bergetar lagi. Ada nama Venya lagi di sana.
From: Venya
“Ampun dah ni anak, ngga nyambung. Kepedean lo itu udah over tauk! Yakin baik-baik aja? Bohong. Lebay amat lo... Err, sebenernya gue mau tanya something”
Aku pun membalas pesan Venya itu secepat yang aku bisa dengan perlahan mencerna kata-katanya. Ada “sesuatu” yang mengusiknya.
“Haha. GUE EMANG GANTENG. Ngapain bohong Ve, yaelah... tanya apaaaah?!”

Senin, 14 April 2014

[CERBUNG] Sebatas Kata, Senyata Kita (Chapter 3)

[Venya's POV]

Aku masih termangu, masih belum beranjak dari tempat berdiriku itu.
“Hadeh! kenapa lo bengong aja Ve?! Masih pagi sistah, jangan galau mulu lo” suara Tristan mengagetkanku dengan tambahan gerakan berkeliling mengitariku.

“Idih ini orang, udah ngagetin, sok tahu pula. Dosa lo berganda bos! Siapa yang galau sih Tan, gue speechless liat itu orang-orang” aku menunjuk kearah Geovani yang sedang mengejar Sasha.

“Emang gitu ya orang lagi jatuh cinta? Kok lebay ya?” lanjutku.

“Masa?! Bohong aja lo. Ketahuan nih, lo iri ya... haha” tawa ejekannya mewarnai percakapan pagi itu.

“Makin ngga nyambung aja. Udah ah gue mau ke kelas!” tukasku sambil berjalan meninggalkan Tristan.

“Tungguin gue woy!”

“Brisik lo”

Senin, 10 Maret 2014

[CERBUNG] Sebatas Kata, Senyata Kita (Chapter 2)

[Venya's POV]

Aku yang sudah duduk depan tv menoleh padanya lalu tersenyum. Aku yakin senyumku itu aneh baginya. Aku sendiri merasakan senyumku itu masam dan terkesan sangat memaksa. Akhirnya aku bersuara...

“Ciyeee... pecah telor! Emang ada ya yang mau sama lo? Haha.” Aku yakin tawaku yang itu juga terdengar hambar di telinganya.Dan jika Geovani mengerti, terselip pesan disana lihat apa yang ada di depan lo Ge!

Dengan cepat ia membalas “Ada dong... Secara muka mirip Al gini, siapa sih yang ngga mau? Haha.” tawanya itu terdengar renyah dibarengi gerakan jempol dan telunjuknya yang menarik sedikit kaos Bang Vincent yang dipakainya itu pada bagian bahu.Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Dan jika ia benar-benar melihat senyum itu, sungguh terselip pesan iya Ge gue mau.

Jumat, 07 Maret 2014

[CERBUNG] Sebatas Kata, Senyata Kita (Chapter 1)

[Venya's POV]

Secara resmi aku berada pada modus pengintaian. Ini karena desas-desus mengenai Geovani yang tak lagi sendiri. Menurut gosip yang beredar, kemarin ia menyatakan cintanya kepada Sasha. Kabar ini membuatku lupa bagaimana caranya berlari mengelilingi lapangan basket yang jelek ini. Karena konsentrasiku pecah ingin segera mengecek semua tentang Geovani itu tentunya. Sehingga Mr.Anton menegurku karena waktuku yang paling lama saat kelas olahraga.

Benar saja itu terjadi. Gosip itu bukan hanya kabar burung. Statusnya di facebook berganti menjadi in relationship. Perasaanku remuk hancur berkeping-keping. Apa yang dilakukannya ini sangat tidak sopan mengingat aku adalah sahabatnya sekaligus pengagum rahasianya. Dan ia tak menceritakan awal kedekatannya dengan Sasha sama sekali kepadaku. Bagaimana bisa ini terjadi?!

Kamis, 27 Februari 2014

This Journey


Entahlah... belakangan ini aku suka berpikir mengenai bagaimana menjadi makhluk Tuhan yang baik. Ya tentunya aku tau, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tapi pada jaman kapitalisme ini, beserta antek-anteknya seperti hedonisme membuat lingkungan menjadi tidak baik. Kau pasti mengerti.

Aku berusaha untuk selalu meminta perlindungan kepada-Nya disetiap kesempatan. Aku juga sangat bersyukur , masih mempunyai beberapa teman yang memang sangat menjunjung tinggi akidah itu, menjaga sepenuhnya atas kehormatan yang dipikulnya, toleran dengan teman yang "berbeda" juga, dan itu sangat patut untuk diikuti tingkah lakunya. Maksudku beberapa temanku itu memang baik, sungguh aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Mereka memang baik.

Aku menyayangi mereka yang membuatku menjadi lebih baik. Tentu saja ini juga berkat karunia-Nya dan hidayah-Nya yang amat besar. Lindungi mereka yang menyayangiku, Tuhan. Mereka yang mencintai-Mu. Bantu kami menjaga iman suci ini. Tuntun kami selalu dalam meniti jalan lurus-Mu Tuhan, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, jalan yang Engkau ridhai, yang juga mencintai Rasul-Mu. Rindu teramat ini kusampaikan pada-Mu Tuhanku.

Kedamaian hati kurasakan saat mengingat-Mu Tuhan. Sungguh tak ada keraguan atas kuasa-Mu. 
Mengingat tugas manusia selain sebagai khalifah dalam mengelola bumi adalah untuk menjadi hamba-Nya.
Bercerminlah apa yang sedang kau lakukan sekarang :) Sudah benar? Kalo belum, mari bersama-sama memperbaiki diri.

Hei... jika kau berpikir aku berlebihan dalam memaparkan ceritaku ini terserah saja. Apapun yang kau pikirkan seperti fanatik, sok suci, sok alim, sok sok sok..... atau sejenisnya juga terserah. Hehe.
Sungguh aku tak peduli karena tiada sekutu bagi-Nya dan juga hukum-Nya.
Selamat melanjutkan perjalanan!